reader
mencari di Mengarti.blogspot.com gunakan mesin cari ini , di dikung oleh google
Mengarti.blogspot.com        حَسْـــبُنَا الله        بِـــــــــسْمِ الله  ~  اَلْحَمْـــــــــدُ لِله
cukuplah bagi kami ALLAH

4 Oktober 2012

kisah pengingkaran dan sifat lupa adam

Di halaman ini menceritakan tentang kisah pengingkaran dan sifat lupa adam dan pelajaran / hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini. perihal ini bersumber dari al-quran dan hadits.

PENGANTAR
Para ahli purbakala pada zaman ini menelusuri kota-kota yang lenyap dan sisa-sisa umat terdahulu agar mereka mengenal kehidupan nenek moyang, mengetahui keadaan dan kondisi mereka. Di samping minimnya informasi yang berhasil mereka gali, ia juga ilmu yang tidak murni sehingga tidak menampakkan hakikat dan tidak menyisir kabut kelam yang menyelimutinya. Ia tidak kuasa menyibak tabir masa lalu yang dalam dengan kepastian. Lain urusannya dengan kedatangan wahyu Allah untuk membawa berita orang-orang terdahulu. Hal itu merupakan kekayaan tak ternilai harganya, karena ia menyuguhkan sesuatu yang nyata dalam keadaan bersih dan murni. Ia adalah ilmu yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Mengenal lagi Maha Mengetahui, di mana tidak sesuatu pun di langit dan di bumi yang samar dari-Nya.

Sebagian ilmu ini tidak mungkin ditembus dengan jalan selain wahyu. Di antaranya, sebagian berita tentang bapak kita, Adam ‘Alayhi Salam, tentang sebagian tabiat dan ciri-cirinya yang kita warisi darinya. Sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita sebagian syariat untuknya dan untuk anak cucu sesudahnya.

NASH HADIS
Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Salam bersabda,
"Manakala Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa yang Allah akan menciptakannya dari anak cucunya sampai hari Kiamat. Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing- masing orang kilauan cahaya. Kemudian mereka dihadapkan kepada Adam. Adam berkata, 'Ya Rabbi, siapa mereka?' Allah menjawab, 'Mereka adalah anak cucumu." 
Lalu Adam melihat seorang laki-laki dari mereka. Dia mengagumi kilauan cahaya yang memancar di antara kedua matanya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi siapa ini?’ Allah menjawab, ’Ini adalah laki-laki dari kalangan umat terakhir dari anak cucumu yang bernama Dawud.’ Adam bertanya, ’Ya Rabbi, berapa Engkau beri dia umur?’ Allah menjawab, ’Enam puluh tahun.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, tambahkan untuknya dari umurku empat puluh tahun.’ Manakala umur Adam telah habis, dia didatangi oleh Malaikat maut. Adam berkata, ’Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?’ Malaikat menjawab, ’Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Dawud?’ 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ’Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah."
Abu Isa berkata, "Ini adalah hadis hasan shahih. Ia telah diriwayatkan tidak dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam."

Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bersabda, "Ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya, dia bersin, dia berkata 'Alhamdulillah', dia memuji Allah dengan izin-Nya. Maka Tuhannya berfirman kepadanya, 'Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam. Pergilah kepada para Malaikat itu, sebagian mereka yang sedang duduk. Katakanlah, 'Assalamu'alaikum'. Mereka menjawab, 'Wa alaikas salamu warahmatihi'. Lalu Adam kembali kepada Tuhannya, dan Dia berfirman, 'Sesungguhnya itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak-anakmu di antara mereka.’

Lalu Allah berfirman kepada Adam, sementara kedua tangan-Nya mengepal, ’Pilih satu dari keduanya yang kamu kehendaki.’ Adam menjawab, ’Aku memilih tangan kanan Tuhanku dan kedua tangan Tuhanku adalah kanan yang penuh berkah.’ Kemudian Allah membukanya. Ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi, siapa mereka?’ Allah menjawab, ’Mereka adalah anak cucumu.’ Ternyata umur semua manusia telah tertulis di antara kedua matanya. Di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang paling cerah cahayanya atau termasuk yang paling terang cahayanya. Adam bertanya, ’Ya Rabbi, siapa ini?’ Allah menjawab, ’Ini adalah anakmu Dawud dan Aku telah menulis umurnya empat puluh tahun.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, tambahkan umurnya.’ Allah berfirman, ’Itu yang telah Aku tuliskan untuknya.’ Adam berkata, ’Ya Rabbi, aku memberikan umurku enam puluh tahun kepadanya.’ Allah berfirman, ’Itu urusanmu.’
Nabi SAW bersabda, "Lalu Adam diminta tinggal di Surga sekehendak Allah, kemudian dia diturunkan darinya. Maka Adam menghitung sendiri umurnya. Manakala Malaikat maut datang, Adam berkata kepadanya, 'Kamu telah tergesa-gesa. Aku telah diberi umur seribu tahun.’ Malaikat menjawab, ’Tidak, tetapi kamu telah memberikan enam puluh tahun umurmu kepada anakmu Dawud.’ Lalu Adam mengingkari, maka anak cucunya mengingkari. Adam lupa, maka anak cucunya lupa. Dia berkata, ’Sejak saat itu diperintahkan untuk menulis dan saksi-saksi."
Tirmidzi berkata, "Ini adalah hadis hasan gharib dari jalan ini. Ia telah diriwayatkan bukan dari satu jalan dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari riwayat Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam."

TAKHRIJ HADIS
Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Al-A'raf, 4/267. Lihat Shahih Sunan Tirmidzi, 3/52, no. 3282.
Hadis kedua diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Kitab Tafsir, bab dari surat Muawwidzatain, 4/453. Lihat Shahih Sunan Tirmidzi, 3/137, no. 3607.

PENJELASAN HADIS
Allah menciptakan Adam dalam keadaan sempurna dan lengkap. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang yang tidak berilmu, bahwa manusia berevolusi dari hewan atau tumbuhan. Allah menciptakannya dari saat pertama dia diciptakan sebagai seorang yang berakal dan berbicara, dia memahami apa yang dikatakan kepadanya dan dia menjawab dengan benar.

Setelah ruh ditiupkan kepadanya, Adam bersin, maka dia memuji Allah Azza wa Jalla. Allah menjawabnya, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam." Allah memerintahkan Adam agar pergi ke sekumpulan Malaikat yang sedang duduk dan mengucapkan salam kepada mereka. Para Malaikat pun membalas penghormatannya dengan penghormatan yang lebih baik. Dan Allah memberitahukan kepadanya bahwa hal itu adalah penghormatannya dan penghormatan di antara anak cucunya. Adam berjalan, mendengar, berbicara, bersin, mengerti dan memahami perkataan.

Anda lihat dalam hadis, betapa besar perhatian Allah kepada hamba-Nya, Adam. Dia berfirman kepadanya manakala dia bersin, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam." Dan barangsiapa dirahmati oleh Tuhannya, maka dia mendapatkan perhatian, perlindungan dan kemuliaan-Nya. Oleh karenanya, Allah menerima taubatnya manakala dia terpeleset dari jalan lurus kemudian Adam kembali kepada-Nya. Allah juga memaafkan kelalaian kita dan mendukung kita dengan ruh dari-Nya.

Allah telah mensyariatkan untuk Adam ketika berada di Surga dan anak cucunya agar ber-tahmid jika bersin dan didoakan rahmat jika telah mengucapkan tahmid. Dan Allah telah menjadikan salam sebagai penghormatan anak cucu dan keturunan sesudahnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyampaikan kepada kita bahwa Allah mengusap punggung Adam, maka berjatuhanlah semua jiwa dari anak cucu Adam yang akan diciptakan darinya sampai hari Kiamat. Allah memegang itu dengan Tangan kanan-Nya dan Adam diberi pilihan antara kedua genggaman Tuhannya, maka dia memilih Tangan kanan Tuhannya dan kedua Tangan Allah adalah kanan yang penuh berkah. Manakala Allah membukanya, ternyata di dalamnya terdapat Adam dan anak cucunya.

Adam melihat anak cucunya yang akan diciptakan sesudahnya dan Allah telah menjadikan cahaya di antara kedua mata masing-masing. Adam juga melihat umur masing-masing telah tertulis di antara kedua mata mereka. Adam melihat seorang laki-laki dengan cahaya yang bagus. Dia bertanya tentangnya. Maka Allah memberitahukan bahwa dia adalah salah satu putranya yang akan muncul di sebuah umat sebagai salah satu umat terakhir. Putra itu bernama Dawud, yang diberi umur enam puluh tahun (dalam riwayat lain, empat puluh). Riwayat pertama lebih shahih. Adam merasa umur Dawud pendek, dia pun memohon kepada Allah agar menambah umur Dawud. Allah menyatakan bahwa itulah umur yang ditetapkan untuk Dawud. Lalu Adam memberikan sebagian umurnya kepada Dawud untuk menggenapinya menjadi seratus.

Nampak dari hadis tersebut bahwa Allah memberitahu Adam tentang umur yang ditulis untuknya, bahwa dia akan hidup seribu tahun. Manakala umurnya telah mencapai seribu tahun kurang empat puluh, Malaikat maut datang kepada Adam untuk mencabut nyawanya. Adam pun menyangkal keinginan Malaikat maut. Dia membantah Malaikat yang hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya tiba. Nampak pula dari hadis tersebut bahwa Adam menghitung sendiri umurnya tahun demi tahun. Maka Adam mengingkarinya karena lupa. Dan anak cucu Adam mewarisi sifat-sifat bapak mereka. Mereka mengingkari seperti Adam mengingkari. Mereka lupa seperti Adam lupa. Oleh karena itu, Allah memerintahkan penulisan dan kesaksian untuk mengantisipasi pengingkaran orang-orang yang ingkar dan kelupaan orang-orang yang lupa.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Allah menciptakan Adam secara lengkap dan sempurna sejak awal penciptaannya. Tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang sesat, bahwa Adam diciptakan tidak sempurna, kemudian berkembang menuju kesempurnaan dalam rentang waktu yang panjang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menyampaikan kepada kita bahwa di antara kesempurnaan penciptaan Adam, adalah diciptakannya dia dengan tinggi enam puluh hasta di langit dan bahwa manusia setelah Adam terus menerus menyusut sampai pada ukuran manusia saat ini. Pada hari Kiamat Allah memasukkan orang-orang mukmin ke Surga dengan bentuk penciptaan yang sempurna seperti penciptaan Allah terhadap Adam.
  2. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Salam bersabda, "Allah menciptakan Adam dan tingginya adalah enam puluh hasta, kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Pergilah, ucapkan salam kepada para Malaikat itu. Dengarkanlah penghormatan mereka kepadamu, karena itu adalah penghormatanmu dan penghormatan anak cucumu.’ Maka Adam berkata, 'Assalamu'alaikum.’ Mereka menjawab, 'Assalamu 'alaika wa rahmatullah dengan tambahan 'Warahmatullah'. Dan semua orang yang masuk Surga dengan bentuk penciptaan Adam. Dan manusia terus menerus menyusut sampai saat ini." Diriwayatkan oleh Bukhari, 3/11, no. 6277, 6/332, no. 3326. Diriwayatkan oleh Muslim, 4/2183, no. 2841.
  3. Kebenaran yang aku sebutkan di atas, bahwa Adam diciptakan secara sempurna sejak dihembuskannya ruh kepadanya ditunjukkan oleh hadis tersebut. Allah menciptakan Adam dalam bentuk penciptaan yang sempurna. Dia tidak berkembang dan tidak berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari satu ciptaan ke ciptaan yang lain. Lain halnya dengan anak cucunya, Allah menciptakan mereka di dalam rahim ibu dalam bentuk setetes air, kemudian segumpal darah, kemudian seonggok daging, kemudian setelah dihembuskannya ruh, Dia menumbuhkannya sebagai makhluk lain.
  4. Mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bapak kita, Adam, di antaranya adalah bersinnya Adam, ucapan ’alhamdulillah’, jawaban Allah kepadanya ( رحمك   لِله), salamnya kepada para Malaikat, juga jawaban Malaikat kepadanya. Allah mengusap punggungnya dan peristiwa-peristiwa lain yang dikandung oleh hadis ini.
  5. Orang yang bersin mengucapkan hamdalah. Orang yang mendengarnya mengucapkan, " رحمك   لِله" dan penghormatan salam termasuk syariat alami (internasional) yang dimiliki oleh seluruh syariat, tidak khusus untuk satu umat tertentu dan itu termasuk warisan bapak mereka, Adam ‘Alayhi Salam.
  6. Penetapan takdir. Allah mengetahui hamba-hamba- Nya pada masa azali dan Dia menulis hal itu di sisi- Nya. Dia menunjukkan kepada Adam tentang anak cucunya sesudahnya, dan umur setiap orang telah ditulis di antara kedua matanya.
  7. Penetapan dua Tangan bagi Allah dan Dia menggenggam keduanya, kapan Dia berkehendak dan bagaimana Dia berkehendak tanpa takyif (bertanya bagaimana) dan ta'thil (mengingkari). Tiada sesuatu pun yang menyerupai Dia. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
  8. Keutamaan Nabiyullah Dawud dan besarnya iman yang dimilikinya dibuktikan dengan kuatnya cahaya di antara kedua matanya.
  9. Kemampuan Adam berhitung. Dia menghitung tahun-tahun umurnya. Dia mengetahui umurnya yang telah berlalu dan yang tersisa. Dia membantah Malaikat maut ketika hendak mencabut nyawanya sebelum ajalnya sempurna.
  10. Keterangan tentang umur Adam. Dia hidup seribu tahun. Ini merupakan pelurusan terhadap keterangan Taurat, yang disebutkan di dalam Ishah kelima buku penciptaan bahwa umurnya adalah 930 tahun. Yang benar adalah yang disebutkan oleh hadis. Hadis ini juga menjelaskan umur Dawud.
  11. Tabiat Adam dan anak cucunya adalah pengingkaran dan kelupaan.
  12. Disyariatkannya menulis dalam akad dan muamalat untuk mengantisipasi pengingkaran dan sifat lupa manusia.


Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma

3 Oktober 2012

pentingnya kisah al-quran dan hadis

Kisah terbaik adalah kisah-kisah Al-Qur'an yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu." (QS. Yusuf: 3)
Dan kisah-kisah dari hadis nabawi berada setelah urutan kisah-kisah Al-Qur'an. Banyak orang yang terbiasa membaca kisah hanya untuk hiburan dan kenikmatan sesaat, karena mereka hanya mengetahui bahwa mayoritas kisah-kisah bukanlah wujud dari realita, semata-mata karangan dan imajinasi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kisah yang tidak mungkin terjadi, seperti kisah khayalan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadiannya.

Kisah-kisah rakyat yang diceritakan dari orang-orang terdahulu, khususnya orang-orang Romawi dan Persia, termasuk di dalam kisah model ini, sering disebut dengan kisah takhayul. Termasuk dalam hal ini juga adalah kisah seribu satu malam. Di kalangan orang-orang Arab ada kisah Antarah dan kisah Abu Zaid Al-Hilali. Kisah seperti ini masih mempunyai keberadaan yang kuat pada masa kini. Penulis saat ini telah menemukan apa yang dinamakan dengan khayalan ilmiah, si penulis membayangkan sesuatu yang bisa dicapai oleh manusia pada masa yang akan datang dan memaparkan keadaan manusia pada
waktu itu.

Kisah-kisah di dalam Al-Qur'an dan hadis yang shalih, semuanya adalah kebenaran dan kejujuran. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi tanpa dikurangi dan ditambahi. 
"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya." (QS. Al-Kahfi: 13). "Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar." (QS. Ali Imran: 62).
Kisah bukanlah suatu kebenaran kecuali jika ia disampaikan oleh penyampai tanpa tambahan di dalamnya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersucikan dari dusta. Maka, tidak mungkin Dia menceritakan kisah yang tidak terjadi. Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dia menyaksikan dan melihat. Oleh karena itu, ketika Dia menyampaikan kisah kepada kita, maka Dia menyampaikan dengan ilmu sebagai Dzat yang
menyaksikan dan melihat. 
"Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (QS. Al-A'raf: 7)
Jikalau manusia meyakini bahwa kisah-kisah Al-Qur'an yang disampaikan kepada mereka dan kisah-kisah dari hadis Rasul yang sampai kepada mereka, semuanya adalah benar dan jujur, maka ia akan mempunyai pengaruh besar dalam meluruskan jiwa mereka. Ia bisa mengatur tabiat mereka dengan mengambil nasihat-nasihat dan pelajaran-pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya agar menyampaikan kisah-kisah yang diketahuinya kepada manusia, agar mereka merenungkan keadaan orang- orang yang telah berlalu, lalu mereka mengukur diri dengan mereka dan mengambil pelajaran untuk diri mereka. Jika mereka adalah orang-orang dzalim, maka mereka menjauhi jalan hidup mereka. Dan jika mereka adalah orang-orang baik, maka mereka harus diteladani.
"Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al-A'raf: 176).
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran orang- orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah berita yang dibuat-buat." (QS. Yusuf: 111)
Para Rasul dan para dai mengambil pelajaran dari kisah orang-orang terdahulu. Kisah-kisah Al-Qur'an dan hadis nabawi masih dan selalu menjadi bekal yang menyirami jiwa dan meneguhkan hati. Sebagaimana firman Allah,
"Dan semua kisah dari Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu." (QS. Hud: 120).
Kehidupan manusia di muka bumi mempunyai kemiripan dalam kelurusan dan penyimpangannya. Contoh-contoh kemanusiaan, baik yang lurus maupun yang serong, adalah contoh-contoh yang berulang. Oleh karena itu, Al-Qur'anul Karim dan hadis nabawi, kedua-duanya memberikan kepada kita berita-berita di mana kita mendapati diri kita di dalamnya atau mendapati padanya orang-orang di sekeliling kita. Seolah-olah nash-nash itu di samping menceritakan kisah fulan juga menyampaikan kepada kita tentang ujian yang kita rasakan atau kemakmuran yang kita enyam atau ia menyampaikan kepada kita tentang pemimpin yang adil yang hidup di antara kita atau pemimpin yang congkak lagi lalim yang mondar-mandir sebagai perusak di bumi. Kadang ia menyampaikan kepada kita tentang kisah kemanusiaan yang biasa. Bisa jadi yang dibahas adalah seorang petani yang shalih, atau pedagang yang jujur dan amanah, atau seorang manusia yang penuh kasih sayang. Contoh ini
bisa kita lihat pada seorang petani kenalan kita atau pedagang relasi kita atau seorang laki-laki di mana kita mendapatkan serpihan kasih sayangnya.

Kisah-kisah Al-Qur'an dan hadis menampilkan potret nyata dan riil yang menggariskan ajaran-ajaran Al-Qur'an dalam fenomena yang berdenyut seiring hidup itu sendiri. Dan banyak manusia yang melihat kebenaran melalui kenyataan riil secara lebih gamblang daripada melalui pembelajaran-pembelajaran yang ala kadarnya. Oleh karena itu, seseorang yang lurus kadang-kadang perilakunya lebih berpengaruh bagi orang lain, daripada pengaruh ucapannya.


Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma

pentingnya kisah


PENTINGNYA KISAH , Kisah merupakan sebuah warna adab (sastra). Manusia memberinya perhatian tidak seperti kepada bidang yang lainnya. Kisah disukai oleh jiwa manusia, memiliki nilai pengaruh yang tinggi. Jiwa menggemarinya, hati menyukainya, serta telinga membuka pintunya lebar-lebar.

Karena posisinya yang penting, maka pada masa kini model-modelnya semakin beragam. Ada yang disebut riwayat, yaitu kisah yang panjang (bersambung), pemerannya banyak, dan terdapat jaringan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian. Ada kisah pendek yang sering disebut cerpen. Ada pula kisah fiksi, kisah nyata, kisah perlambang. Termasuk kisah fiksi adalah kisah-kisah tentang hewan (fabel) di mana penulis menjadikan pahlawannya adalah hewan-hewan yang bisa berbicara, berpikir, mengatur dan melontarkan kata-kata mutiara. Dewasa ini banyak sekali penulisan kisah. Sebagian besar dirubah menjadi sandiwara-sandiwara dan film-film, yang memerankan peristiwa seperti kejadiannya atau seperti yang dibayangkan oleh pemiliknya. Ditampilkan di gedung-gedung bioskop dan layar TV. Dan kisah-kisah  yang ditampilkan ini membawa akidah, pemikiran, akhlak dan nilai-nilai para penulisnya. Banyak negara mulai menyebarkan pengetahuan dan nilai-nilainya melalui kisah-kisah yang difilmkan, melalui buku-buku dan majalah-majalah, untuk mengikat hati dan akal orang-orang agar menjadi pengikutnya yang mengalir di orbitnya.


Kisah  Dalam Al-Qur’an Dan Sunnah
Penulis : Syaikh ‘Umar Sulaiman al-‘Asyqor
Penterjemah & Editor : Tim Pustaka ELBA
http://dear.to/abusalma